• 5 Juni 2026
  • ahmadmidzi17@gmail.com
  • 0

Khutbah Shalat Ied 1447 H

Pemateri : Ust. Muhammad Ilyas Sembiring S.Pd.I, M.H

Tema : Diantara Takbir dan Air Mata Pengorbanan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، أحمده سبحانه وأشكره، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادةً تُنجينا يوم اللقاء، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه إلى يوم الدين.
أما بعد…

فيا عباد الله، اتقوا الله حق التقوى، وراقبوه في السر والنجوى.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Pagi ini bumi basah oleh takbir.
Langit seakan ikut mendengar gema pengagungan kepada Allah.
Burung-burung terbang membawa dzikir.
Dan hati orang-orang beriman bergetar mengenang sebuah kisah agung tentang cinta, ketaatan, dan pengorbanan.

Hari ini kita tidak sekadar berkumpul di tanah lapang.
Kita sedang belajar kembali…
Bahwa jalan menuju Allah tidak pernah dihiasi kemewahan hawa nafsu, tetapi dipenuhi pengorbanan dan ketundukan.

Idul Adha mengajarkan kepada kita:
bahwa seorang hamba terkadang harus rela kehilangan sesuatu yang dicintainya demi mendapatkan cinta Allah yang jauh lebih mulia.

Allah Ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kaum muslimin rahimakumullah…

Betapa banyak manusia mampu menyembelih hewan qurban…

tetapi belum mampu menyembelih kesombongan dalam dirinya.
Betapa banyak yang mampu membeli sapi terbaik…
tetapi belum mampu memotong sifat riya’ yang bersembunyi di dalam hati.
Padahal Allah tidak melihat besarnya hewan qurban kita.
Allah melihat: seberapa tulus hati kita ketika taat kepada-Nya.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam…
Seorang nabi yang rambutnya memutih dalam penantian panjang.
Puluhan tahun beliau menunggu hadirnya seorang anak.
Lalu Allah menghadiahkan Ismail sebagai penyejuk mata dan pelipur kesepian.
Namun ketika cinta itu tumbuh begitu dalam…
Allah menguji beliau dengan perintah yang mengguncang langit dan bumi:

“Sembelih anakmu.”

Perintah yang jika datang kepada manusia biasa mungkin akan melahirkan protes dan kemarahan.
Tetapi Ibrahim tidak bertanya:

“Kenapa harus aku?”

Karena hati yang mengenal Allah…
akan lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan ridha-Nya.
Dan lebih menggetarkan lagi…
sang anak berkata:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Allahu Akbar…

Ayah yang taat.

Anak yang hebat.
Keluarga yang dibangun bukan di atas kemewahan dunia, tetapi di atas tauhid dan iman.

Ma’asyiral muslimin…
Hari ini dunia sedang sakit.
Banyak manusia tertawa, tetapi hatinya kosong.
Rumah-rumah megah berdiri tinggi, tetapi shalat berjamaah mulai sunyi.
Anak-anak pandai berbicara tentang dunia, tetapi gagap membaca Al-Qur’an.
Di zaman seperti inilah pesantren, majelis ilmu, para ustadz dan ustadzah menjadi benteng terakhir penjaga cahaya.

Wahai para guru…
Kalian mungkin lelah.
Suara kalian mungkin serak mengajar setiap hari.
Keringat kalian mungkin tidak dihargai dunia.
Tetapi ketahuilah…
Boleh jadi satu huruf Al-Qur’an yang kalian ajarkan kepada seorang santri…
akan menjadi cahaya yang menerangi kubur kalian nanti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dan wahai para santri…
Kalian bukan anak-anak biasa.
Kalian adalah harapan umat yang sedang terluka.
Kalian adalah calon penjaga aqidah di tengah zaman yang penuh fitnah.
Jangan malu menjadi anak pesantren.
Karena sejarah umat ini dibangun oleh orang-orang yang dekat dengan sajadah dan Al-Qur’an.
Jangan iri dengan gemerlap dunia yang menipu.
Sebab tidak semua yang bercahaya itu membawa hidayah.

Ketahuilah…
ada air mata yang lebih mulia daripada tawa dunia,
yaitu air mata seorang hamba yang takut kepada Allah di tengah malam.

Kaum muslimin rahimakumullah…
Hari raya ini mengingatkan kita bahwa hidup sangat singkat.
Yang muda akan menua.
Yang kuat akan melemah.
Yang hidup akan kembali ke tanah.
Tidak ada jabatan yang ikut ke kubur.
Tidak ada pujian manusia yang menemani kita di alam barzakh.
Yang tinggal hanyalah amal.
Shalat yang pernah kita tinggalkan akan ditanya.
Al-Qur’an yang jarang kita baca akan menjadi saksi.
Dan umur yang Allah beri akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu jangan tunda taubat.

Boleh jadi ini Idul Adha terakhir kita.
Boleh jadi tahun depan nama kita tinggal disebut dalam doa.

Maka sebelum terlambat…

kembalilah kepada Allah.

Perbaiki shalat kita.
Perbaiki hati kita.
Perbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an.
Karena dunia ini hanya persinggahan,
sedangkan akhirat adalah kampung keabadian.

DOA

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك.

Ya Allah…
Jika hati kami terlalu mencintai dunia, patahkanlah dengan hidayah-Mu.
Jika langkah kami mulai jauh dari-Mu, tarik kembali kami menuju jalan-Mu.

Ya Allah…
Jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami.
Jangan biarkan hati kami mati di tengah gemerlap kehidupan.

Ya Allah…
Muliakan para ustadz dan ustadzah kami.
Jadikan lelah mereka bernilai jihad di sisi-Mu.

Ya Allah…
Jadikan para santri dan santriwati kami generasi penjaga Al-Qur’an, pembela sunnah Nabi-Mu, dan penerang umat di akhir zaman.

Ya Allah…
Saat nanti kami pulang menghadap-Mu,

pulanglah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

 
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلّى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

وأقم الصلاة.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *